Cilacap, 30 Agustus 2026 – Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan untuk membantu nelayan tradisional mengurangi ketidakpastian saat mencari ikan. Di Cilacap Selatan, Jawa Tengah, startup MetaSeaco mengembangkan teknologi bernama Iwak yang memanfaatkan AI dan data satelit untuk memberikan rekomendasi sebelum nelayan berlayar.
Teknologi tersebut dikembangkan karena aktivitas melaut memiliki risiko ekonomi yang cukup besar. Nelayan harus mengeluarkan biaya bahan bakar, waktu, dan tenaga, tetapi hasil tangkapan belum tentu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Berdasarkan data yang dicatat MetaSeaco, sekitar 41 persen dari 6.806 perjalanan melaut di Cilacap Selatan mengalami kerugian. Kondisi tersebut kemudian mendorong pengembangan Iwak sebagai alat bantu untuk menentukan strategi sebelum kapal meninggalkan daratan.
AI Bantu Tentukan Lokasi Penangkapan
Iwak memanfaatkan kecerdasan buatan dan data satelit untuk menganalisis kondisi laut serta memberikan sejumlah rekomendasi kepada nelayan.
Melalui teknologi tersebut, nelayan dapat memperoleh informasi mengenai waktu yang dinilai tepat untuk melaut, jenis ikan yang dapat menjadi target, hingga titik koordinat yang memiliki potensi penangkapan.
CEO MetaSeaco Catur Prasetyo Nugroho mengatakan nelayan bahkan dapat memperoleh informasi sejak masih berada di rumah. Dengan demikian, mereka bisa mempertimbangkan apakah perjalanan melaut pada hari tertentu layak dilakukan atau sebaiknya ditunda.
Jika diputuskan untuk berlayar, sistem juga memberikan rekomendasi mengenai waktu dan titik koordinat yang dinilai potensial untuk menangkap ikan.
Pendekatan tersebut membuat pengalaman nelayan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan keputusan, tetapi kini dilengkapi dengan informasi berbasis data.
Sudah Digunakan 15 Perahu
Teknologi Iwak saat ini telah digunakan oleh 15 perahu nelayan di Cilacap. Dari penggunaan tersebut, MetaSeaco mencatat adanya perubahan pada biaya operasional dan pendapatan nelayan.
Biaya operasional tercatat turun sekitar 23 persen, sedangkan pendapatan rata-rata nelayan meningkat hingga 68 persen. Persentase perjalanan yang mengalami kerugian juga turun dari sekitar 41 persen menjadi sekitar 30 persen.
Prediksi yang dihasilkan Iwak juga menunjukkan tingkat akurasi berbeda berdasarkan jenis ikan. Untuk ikan tenggiri batang, tingkat akurasinya mencapai 91 persen. Sementara itu, akurasi prediksi ikan bawal putih mencapai 85 persen dan ikan layur sekitar 70 persen.
Dalam salah satu perjalanan, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bahkan mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp3 juta.
Capaian tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi digital untuk membantu nelayan mengurangi perjalanan yang kurang produktif sekaligus mengoptimalkan penggunaan bahan bakar.
Berpeluang Diterapkan di Wilayah Lain
MetaSeaco merupakan startup jebolan program Pertamuda Pertamina. Pengembangan Iwak kemudian mendapatkan peluang untuk diperluas melalui kolaborasi dengan program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina.
Teknologi tersebut nantinya berpeluang direplikasi untuk mendukung masyarakat binaan Pertamina di sekitar wilayah operasional perusahaan. Kolaborasi itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan inovasi teknologi dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina Rudi Ariffianto mengatakan semakin banyak teknologi tepat guna yang dapat diterapkan di masyarakat, semakin besar pula dampak yang dapat diberikan oleh program DEB.
Pertamina saat ini memiliki 269 Desa Energi Berdikari. Karena itu, pengembangan teknologi seperti Iwak dinilai memiliki peluang untuk memberikan manfaat yang lebih luas apabila dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Teknologi Jadi Pendamping Nelayan
Pemanfaatan AI melalui Iwak memperlihatkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk sektor industri dan perkotaan. Data satelit dan kecerdasan buatan juga mulai dimanfaatkan untuk membantu aktivitas masyarakat pesisir.
Bagi nelayan, informasi mengenai kondisi dan potensi lokasi penangkapan dapat menjadi pertimbangan tambahan sebelum mengeluarkan biaya untuk berlayar. Teknologi tersebut tidak menjamin hasil tangkapan, tetapi membantu nelayan mengambil keputusan dengan dukungan data.
Pengembangan Iwak juga menunjukkan pentingnya membawa inovasi dari tahap pengembangan menuju penggunaan langsung di masyarakat. Dari 15 perahu yang saat ini menggunakannya di Cilacap, teknologi tersebut berpotensi dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai wilayah binaan.
Dengan kemampuan memberikan rekomendasi waktu, target ikan, dan titik koordinat potensial, AI Iwak menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membantu nelayan “membaca laut” sebelum berlayar sekaligus berupaya membuat aktivitas melaut lebih efisien dan produktif.




