Jakarta, 25 Mei 2026 – Peluang tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran kembali menguat setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut proses negosiasi masih terus berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif. Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan media internasional yang menyebut Washington dan Teheran semakin dekat dengan nota kesepahaman baru terkait gencatan senjata dan pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz. Meski belum ada pengumuman resmi mengenai tercapainya kesepakatan final, pernyataan Rubio memicu spekulasi bahwa kedua negara mulai menemukan titik temu dalam sejumlah isu penting yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Dalam keterangannya kepada wartawan saat kunjungan kerja di India, Rubio mengatakan ada “hal cukup solid” di atas meja perundingan yang dimediasi Pakistan, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembahasan isu nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi pilihan utama pemerintah Amerika Serikat sebelum mempertimbangkan langkah lain. Rubio juga menyebut Presiden Donald Trump tidak akan terburu-buru mengambil keputusan dan tidak ingin menyetujui kesepakatan yang dianggap merugikan kepentingan AS.
Di sisi lain, pemerintah Iran memberikan respons lebih hati-hati terhadap laporan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan memang ada kemajuan dalam pembahasan sejumlah isu utama, namun belum dapat dipastikan bahwa penandatanganan perjanjian akan segera dilakukan. Iran juga menegaskan bahwa pembahasan masih terus berlangsung dan beberapa poin strategis belum mencapai keputusan final.
Laporan media AS menyebut draf kesepakatan yang sedang dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya sempat terganggu akibat ketegangan kawasan. Dalam skenario yang dibahas, Iran disebut akan mengizinkan kapal-kapal internasional melintas secara normal, sementara AS dikabarkan mempertimbangkan pelonggaran terbatas terhadap sanksi ekonomi tertentu, termasuk akses penjualan minyak Iran selama periode negosiasi berlangsung. Selain itu, isu program nuklir Iran juga menjadi bagian penting dalam pembahasan kedua negara.
Pengamat hubungan internasional menilai perkembangan terbaru ini dapat menjadi momentum penting dalam meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah apabila kedua pihak benar-benar mencapai kesepakatan. Namun mereka juga mengingatkan bahwa hubungan AS-Iran selama ini sangat dinamis dan penuh ketidakpercayaan sehingga setiap proses diplomasi tetap menghadapi risiko gagal di tengah jalan. Selain faktor politik domestik di kedua negara, dinamika kawasan dan kepentingan sekutu internasional juga diperkirakan akan memengaruhi arah akhir negosiasi. Untuk saat ini, publik internasional masih menunggu kepastian resmi mengenai apakah pembicaraan tersebut benar-benar akan menghasilkan kesepakatan besar dalam waktu dekat.




