Jakarta, 23 Oktober 2026 – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak. Sebanyak 75.172 balita dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan paparan asap karhutla. Angka tersebut menjadi perhatian karena balita termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk. Kemenkes mengimbau para orang tua untuk mengurangi aktivitas anak di luar rumah ketika kabut asap menyelimuti lingkungan tempat tinggal. Langkah pencegahan dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.
Kabut asap akibat karhutla mengandung berbagai polutan udara yang dapat mengganggu sistem pernapasan manusia. Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2,5 yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel tersebut dapat menyebabkan iritasi, memperburuk penyakit pernapasan, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada kelompok rentan. Balita memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga membutuhkan perlindungan lebih besar dari polusi udara. Kondisi ini membuat pengendalian paparan asap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak selama kebakaran berlangsung.
Kemenkes mengingatkan bahwa gejala ISPA pada balita perlu dikenali sejak dini oleh orang tua. Beberapa keluhan yang dapat muncul meliputi batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Tingkat keparahan penyakit dapat berbeda pada setiap anak, bergantung pada penyebab infeksi dan kondisi kesehatannya. Paparan asap tidak selalu menjadi penyebab langsung infeksi, tetapi dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk gejala yang sudah dialami. Karena itu, anak yang mengalami gangguan pernapasan selama periode kabut asap perlu mendapatkan perhatian dan pemantauan secara lebih intensif.
Salah satu langkah pencegahan yang dianjurkan adalah membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Orang tua disarankan menjaga anak tetap berada di dalam rumah apabila kondisi lingkungan dipenuhi asap pekat. Pintu dan jendela dapat ditutup sementara untuk mengurangi masuknya polusi dari luar, dengan tetap memperhatikan kebutuhan ventilasi yang aman. Penggunaan penyaring udara dengan kemampuan menyaring partikel halus dapat membantu memperbaiki kualitas udara dalam ruangan apabila tersedia. Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang menambah polusi di dalam rumah, termasuk merokok dan membakar sampah.
Penggunaan masker menjadi perhatian dalam upaya perlindungan terhadap polusi udara akibat karhutla. Masker respirator yang sesuai dan terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus bagi pengguna yang mampu memakainya dengan benar. Namun, masker tidak selalu memberikan perlindungan optimal bagi balita karena ukuran wajah dan kesulitan memastikan pemasangan yang tepat. Anak berusia di bawah dua tahun tidak dianjurkan menggunakan masker karena risiko gangguan pernapasan dan keselamatan. Oleh sebab itu, perlindungan utama bagi bayi dan balita adalah mengurangi paparan dengan menjaga mereka berada di lingkungan yang memiliki kualitas udara lebih baik.
Selain mengurangi paparan asap, orang tua perlu memastikan kebutuhan dasar anak tetap terpenuhi selama kondisi lingkungan memburuk. Pemberian makanan bergizi, cairan yang cukup, dan istirahat yang memadai dapat membantu menjaga kondisi kesehatan tubuh. Anak yang memiliki riwayat asma atau penyakit pernapasan lainnya membutuhkan perhatian khusus karena polusi udara dapat memperburuk keluhan. Obat-obatan yang telah diresepkan dokter harus digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Orang tua juga dianjurkan memantau informasi kualitas udara dan mengikuti arahan petugas kesehatan setempat untuk menentukan langkah perlindungan yang diperlukan.
Kemenkes menekankan pentingnya pemeriksaan medis apabila anak menunjukkan tanda gangguan pernapasan yang mengkhawatirkan. Gejala seperti napas cepat, tarikan dinding dada, kesulitan bernapas, bibir tampak kebiruan, atau anak terlihat sangat lemas memerlukan pertolongan medis segera. Balita yang tidak mau minum atau menunjukkan tanda dehidrasi juga perlu mendapatkan penanganan. Pemeriksaan di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya dapat membantu menentukan penyebab keluhan dan penanganan yang sesuai. Penanganan sejak dini diperlukan untuk mencegah kondisi anak berkembang menjadi lebih berat.
Tingginya jumlah balita yang dilaporkan mengalami ISPA di tengah karhutla menunjukkan pentingnya perlindungan kesehatan masyarakat selama bencana kabut asap. Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat di wilayah terdampak. Selain menyediakan pelayanan medis, pemerintah perlu terus memantau kualitas udara dan memperkuat langkah pencegahan kebakaran agar paparan asap dapat dikurangi. Edukasi mengenai gejala penyakit serta tindakan perlindungan juga harus menjangkau keluarga yang tinggal di kawasan berisiko tinggi. Dengan kewaspadaan dan penanganan yang tepat, dampak kesehatan akibat karhutla diharapkan dapat ditekan, terutama bagi bayi dan balita yang paling membutuhkan perlindungan.




