Jakarta, 19 September 2026 – Perawatan skin booster yang ramai disebut menggunakan bahan “kulit mayat” tengah menjadi perhatian setelah viral di media sosial. Istilah tersebut merujuk pada produk berbahan Human Acellular Dermal Matrix atau hADM yang berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia, dr Hanny Nilasari, menjelaskan istilah “kulit mayat” tidak sepenuhnya menggambarkan proses ilmiah bahan tersebut. Jaringan donor telah melalui serangkaian proses sebelum digunakan sebagai bahan medis. Sel-sel yang berpotensi memicu reaksi imun dihilangkan sehingga yang dipertahankan terutama adalah struktur matriks jaringan. Karena itu, hADM bukan jaringan kulit manusia utuh yang kemudian langsung disuntikkan ke wajah.
Dalam proses pembuatannya, jaringan kulit donor menjalani tahapan penghilangan sel, pemurnian dan sterilisasi. Setelah komponen seluler dihilangkan, bagian yang tersisa terutama berupa matriks ekstraseluler yang mengandung struktur seperti kolagen, elastin dan komponen glikosaminoglikan. Bahan tersebut selanjutnya dapat diproses menjadi bentuk yang sesuai untuk penggunaan medis tertentu. Hanny menegaskan hADM bukan jaringan hidup dan bukan pula sel punca atau stem cell. Komposisinya juga berbeda dari skin booster konvensional yang umumnya menggunakan asam hialuronat sebagai komponen utama. Perbedaan bahan tersebut membuat karakteristik, manfaat dan potensi risikonya tidak dapat disamakan begitu saja.
Teknologi hADM sebenarnya bukan hal baru dalam dunia kedokteran. Material tersebut telah digunakan dalam berbagai kebutuhan rekonstruksi jaringan, termasuk penanganan luka bakar dan prosedur pembedahan. Namun, penggunaan hADM sebagai skin booster untuk tujuan estetika wajah tergolong perkembangan yang relatif baru. Bukti ilmiah mengenai manfaat dan keamanan penggunaan jangka panjang untuk tujuan estetika juga masih terus berkembang. Karena itu, klaim mengenai kemampuan produk memperbaiki kualitas kulit atau memberikan hasil dalam jangka waktu tertentu perlu dinilai berdasarkan penelitian klinis yang memadai. Konsumen tidak disarankan hanya mengandalkan promosi atau testimoni yang beredar melalui media sosial.
Penggunaan bahan biologis melalui prosedur injeksi juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dipertimbangkan. Efek yang dapat muncul antara lain nyeri, pembengkakan, peradangan, infeksi hingga terbentuknya benjolan pada area penyuntikan. Komplikasi yang lebih serius dapat terjadi apabila bahan masuk atau menyebabkan gangguan pada pembuluh darah. Penanganan komplikasi hADM juga berbeda dibandingkan produk berbasis asam hialuronat. Asam hialuronat dapat dilarutkan menggunakan enzim tertentu dalam kondisi yang memerlukannya, sedangkan hADM tidak dapat ditangani dengan mekanisme yang sama. Kondisi tersebut membuat pemilihan produk, teknik penyuntikan dan kompetensi tenaga medis menjadi faktor penting dalam keamanan prosedur.
Legalitas produk juga menjadi perhatian setelah tren tersebut ramai dibicarakan di Indonesia. Produk skin booster berbahan hADM yang viral dari Korea Selatan belum memperoleh izin untuk digunakan atau diedarkan di Indonesia. Bahan yang berasal dari sel maupun jaringan manusia juga tidak termasuk bahan yang diizinkan sebagai kosmetik. Apabila akan digunakan sebagai obat atau produk biologi dalam pelayanan kesehatan, produk tersebut harus melewati proses registrasi dan evaluasi sesuai ketentuan. Penilaian diperlukan untuk memastikan keamanan, mutu dan manfaat sebelum produk dapat digunakan secara resmi. Investigasi terhadap kemungkinan peredaran produk tersebut di Indonesia juga sedang dilakukan.
Masyarakat karena itu disarankan memeriksa secara menyeluruh produk sebelum menjalani prosedur skin booster atau tindakan estetika lainnya. Pasien berhak mengetahui komposisi, asal bahan, produsen, legalitas, nomor bets, masa kedaluwarsa hingga cara penyimpanan produk yang akan digunakan. Tenaga medis juga perlu memberikan informasi mengenai manfaat, keterbatasan bukti klinis dan kemungkinan komplikasi sebelum tindakan dilakukan. Istilah “skin booster kulit mayat” memang tidak menggambarkan proses ilmiah hADM secara tepat, tetapi bahan dasarnya tetap berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan. Transparansi mengenai asal bahan menjadi penting agar pasien dapat memberikan persetujuan berdasarkan informasi yang lengkap. Keputusan menjalani prosedur estetika sebaiknya dilakukan setelah mempertimbangkan keamanan, legalitas produk dan kompetensi tenaga medis yang melakukan tindakan.




