Jakarta, 13 Mei 2026 – Sejumlah peternak ayam petelur mengeluhkan anjloknya harga telur di tingkat produsen dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuat banyak peternak mengalami tekanan ekonomi karena harga jual dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat. Para peternak bahkan menyebut adanya dugaan permainan tengkulak atau pihak perantara yang memengaruhi harga di pasaran.
Menurut para peternak, harga telur di kandang mengalami penurunan cukup tajam sehingga keuntungan yang diperoleh semakin tipis, bahkan sebagian mengaku merugi. Di sisi lain, biaya pakan ternak, obat-obatan, dan operasional kandang masih berada di level tinggi. Situasi tersebut membuat banyak peternak kecil kesulitan menjaga kestabilan usaha mereka dalam jangka panjang.
Beberapa peternak menduga penurunan harga tidak sepenuhnya dipengaruhi kondisi pasar alami, melainkan adanya permainan distribusi oleh pihak tertentu yang mengendalikan pembelian dalam jumlah besar. Mereka menilai posisi peternak sering berada di pihak yang paling lemah karena sangat bergantung pada tengkulak dan jalur distribusi untuk menjual hasil produksi setiap hari.
Pengamat ekonomi pangan menjelaskan bahwa harga telur memang sangat dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan. Ketika produksi melimpah sementara daya beli masyarakat melemah, harga di tingkat peternak dapat turun dengan cepat. Namun rantai distribusi yang panjang juga sering membuat selisih harga antara tingkat peternak dan konsumen menjadi cukup besar.
Kondisi ini membuat banyak peternak mempertanyakan mengapa harga di tingkat kandang turun drastis sementara harga di pasar tidak selalu mengalami penurunan yang sama. Dugaan adanya permainan distribusi dan pengaturan harga oleh pihak tertentu pun kembali muncul di tengah keresahan peternak yang merasa posisi tawar mereka lemah dalam sistem perdagangan pangan.
Pemerintah dan instansi terkait disebut tengah memantau perkembangan harga telur untuk memastikan stabilitas pasokan dan mencegah praktik perdagangan yang merugikan peternak. Pengawasan distribusi serta keseimbangan rantai pasok dinilai penting agar harga di tingkat produsen dan konsumen tetap wajar. Beberapa pihak juga mendorong penguatan koperasi peternak agar petani telur memiliki posisi tawar yang lebih kuat.
Pengamat pertanian menilai persoalan fluktuasi harga telur sebenarnya merupakan masalah yang berulang di sektor peternakan. Ketergantungan terhadap harga pakan impor, minimnya sistem penyangga harga, dan lemahnya akses pasar langsung membuat peternak sangat rentan terhadap gejolak pasar. Karena itu, diperlukan kebijakan jangka panjang yang tidak hanya fokus pada stabilitas harga konsumen, tetapi juga keberlangsungan usaha peternak.
Di tengah tekanan harga yang terus terjadi, banyak peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi sektor peternakan rakyat. Telur merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia, sehingga keberlangsungan produksi nasional dinilai sangat penting. Para peternak berharap sistem distribusi dan perdagangan dapat berjalan lebih adil agar usaha mereka tetap bertahan di tengah tantangan ekonomi yang semakin berat.







