Bandung, 24 September 2026 – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Pangkogabwilhan II) Marsekal Madya TNI Muzafar menjadi narasumber dalam Latihan Posko Operasi Militer Perang (OMP) “Krida Yudha” Pendidikan Reguler (Dikreg) LVI Sesko TNI Tahun Anggaran 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan para perwira siswa dalam meningkatkan kemampuan perencanaan dan penyelenggaraan operasi gabungan. Latihan berlangsung selama lima hari pada 21–25 September 2026. Kegiatan dipusatkan di Ruang Kelompok Gedung Rinca dan Nipah, Sesko TNI, Bandung.
Dalam pelaksanaan latihan, Muzafar hadir bersama unsur staf Kogabwilhan II. Keterlibatan Pangkogabwilhan II diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada perwira siswa mengenai perencanaan, koordinasi, hingga pelaksanaan Operasi Militer Perang pada tingkat strategis dan operasional. Materi tersebut merupakan bagian penting dalam membangun kemampuan perwira ketika menghadapi skenario operasi gabungan. Peserta juga mendapatkan perspektif mengenai penerapan konsep operasi dalam mekanisme komando dan pengendalian.
Latihan Posko Krida Yudha dirancang sebagai sarana bagi peserta Dikreg LVI untuk mengembangkan kemampuan menghadapi dinamika operasi gabungan. Melalui skenario latihan, para perwira siswa dituntut memahami bagaimana berbagai unsur dapat dikoordinasikan dalam sebuah operasi secara terpadu. Kemampuan menyusun rencana menjadi salah satu bagian yang ditekankan selama kegiatan berlangsung. Selain itu, peserta mempelajari koordinasi antarunsur serta mekanisme pengendalian dalam penyelenggaraan operasi.
Kehadiran Pangkogabwilhan II sebagai narasumber memberikan kesempatan kepada peserta memperoleh perspektif dari lingkungan komando gabungan wilayah pertahanan. Pengalaman dalam penyelenggaraan operasi gabungan menjadi salah satu konteks yang diberikan kepada perwira siswa. Pembelajaran tersebut diharapkan membantu peserta menghubungkan materi pendidikan dengan kebutuhan pengambilan keputusan pada tingkat strategis dan operasional. Dengan demikian, latihan tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga pada penerapan konsep dalam skenario yang disiapkan.
Aspek komando dan pengendalian turut mendapatkan perhatian dalam rangkaian latihan. Dalam sebuah operasi gabungan, koordinasi diperlukan untuk memastikan setiap unsur menjalankan tugas sesuai rencana dan sasaran operasi. Para peserta karena itu dibekali pemahaman mengenai mekanisme koordinasi yang melibatkan berbagai unsur TNI. Kemampuan tersebut menjadi bagian dari kompetensi yang diperlukan perwira dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis dan kemungkinan ancaman terhadap pertahanan negara.
Sesko TNI melalui Dikreg LVI menempatkan latihan posko sebagai bagian dari proses pembentukan kemampuan perwira pada jenjang strategis. Peserta dituntut mampu menganalisis situasi, menyusun langkah, serta mengoordinasikan berbagai unsur dalam menghadapi skenario operasi. Latihan juga memberikan ruang untuk menguji pemahaman terhadap proses perencanaan sebelum keputusan diterapkan dalam sebuah operasi. Pendekatan tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan peserta dalam melihat persoalan pertahanan secara menyeluruh.
Operasi gabungan membutuhkan keterpaduan antarmatra sehingga proses perencanaan menjadi salah satu kemampuan yang terus diasah. Dalam konteks Krida Yudha, peserta memperoleh gambaran mengenai hubungan antara perencanaan strategis dengan pelaksanaan pada tingkat operasional. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan koordinasi, komando, pengendalian, serta perkembangan situasi yang dihadapi. Karena itu, latihan menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan peserta dalam mengambil langkah secara terukur dan terintegrasi.
Kogabwilhan II menempatkan keterlibatannya dalam kegiatan tersebut sebagai dukungan terhadap peningkatan profesionalisme perwira TNI. Pengalaman dan perspektif dari lingkungan komando gabungan diharapkan memperkaya materi yang diterima peserta selama pendidikan. Para perwira siswa juga diarahkan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan strategis yang terus berubah. Kemampuan adaptasi tersebut diperlukan agar perencanaan operasi tetap efektif ketika menghadapi kondisi dan tantangan yang berbeda.
Latihan yang berlangsung hingga 25 September tersebut sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk memperkuat kemampuan koordinasi dan penyelenggaraan operasi secara terpadu. Pembelajaran melalui latihan posko memungkinkan perwira menguji proses pengambilan keputusan tanpa harus melaksanakan pengerahan operasi secara nyata. Dari proses tersebut, peserta dapat memahami keterkaitan antara analisis situasi, penyusunan rencana, komando, dan pelaksanaan. Seluruh aspek itu menjadi bagian penting dalam kesiapan perwira menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.
Melalui Latihan Posko OMP Krida Yudha, Sesko TNI dan Kogabwilhan II berupaya memperkuat kesiapan perwira dalam merencanakan serta menyelenggarakan operasi gabungan. Keterlibatan Pangkogabwilhan II memberikan tambahan perspektif mengenai kebutuhan koordinasi pada tingkat strategis dan operasional. Latihan tersebut juga diarahkan agar para peserta mampu bekerja secara terpadu, efektif, dan adaptif ketika menghadapi perkembangan lingkungan strategis. Rangkaian kegiatan akan berlangsung hingga Jumat, 25 September 2026.




