Jakarta, 17 September 2026 – Industri petrokimia dinilai memiliki posisi strategis dalam menopang aktivitas manufaktur Indonesia karena menyediakan berbagai bahan baku yang dibutuhkan sektor hilir. PT Chandra Asri Pacific Tbk terus memperkuat kapasitasnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut setelah lebih dari tiga dekade beroperasi di Indonesia. Presiden Direktur Chandra Asri Group Erwin Ciputra mengatakan perjalanan perusahaan dimulai dengan membangun kapasitas petrokimia nasional dan menyediakan produk untuk berbagai sektor industri. Seiring perkembangan ekonomi, perusahaan kemudian memperluas bisnisnya agar tidak hanya bergantung pada petrokimia. Transformasi tersebut dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni energi dan kimia, infrastruktur terintegrasi, serta solusi mobilitas. Strategi ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus memperluas kontribusi perusahaan terhadap perkembangan industri nasional.
Selama lebih dari tiga dekade, produk yang dihasilkan Chandra Asri telah digunakan dalam rantai pasok berbagai sektor. Bahan petrokimia menjadi komponen penting bagi industri kemasan, otomotif, konstruksi, elektronik, serta beragam produk kebutuhan masyarakat. Keberadaan produksi di dalam negeri dinilai penting karena dapat meningkatkan keterhubungan antara industri hulu dengan manufaktur hilir. Pasokan bahan baku yang lebih dekat dengan pengguna juga dapat membantu menjaga kelancaran aktivitas produksi. Di sisi lain, pertumbuhan industri manufaktur membuat kebutuhan terhadap bahan kimia dasar terus berkembang. Kondisi tersebut mendorong perusahaan meningkatkan kapasitas sekaligus membangun fasilitas baru untuk memenuhi permintaan pasar domestik.
Salah satu investasi yang sedang dikembangkan adalah fasilitas Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride atau CA-EDC di Cilegon, Banten. Proyek tersebut dikelola melalui PT Chandra Asri Alkali dan progres pembangunannya telah mencapai sekitar 72 persen hingga Juli 2026. Fasilitas itu ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027. Nilai investasi proyek tercatat lebih dari US$800 juta, menjadikannya salah satu ekspansi penting Chandra Asri dalam memperkuat bisnis bahan kimia. Fasilitas tersebut akan memproduksi bahan kimia dasar yang digunakan berbagai industri di dalam negeri maupun pasar regional. Kehadirannya juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional untuk produk yang selama ini sebagian kebutuhannya masih dipenuhi melalui impor.
Pembangunan fasilitas CA-EDC menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat struktur industri dari sisi hulu. Ketersediaan bahan baku domestik mempunyai peran penting karena ketergantungan terhadap produk impor dapat membuat industri lebih rentan terhadap perubahan harga, gangguan logistik, maupun kondisi pasar internasional. Penambahan kapasitas produksi dalam negeri diharapkan memberikan alternatif pasokan yang lebih dekat bagi perusahaan manufaktur. Selain manfaat terhadap rantai pasok, proyek berskala besar tersebut juga membuka kebutuhan tenaga kerja selama tahap pembangunan maupun ketika fasilitas mulai beroperasi. Kebutuhan pekerja dengan kemampuan teknis khusus dapat mendorong pengembangan kompetensi sumber daya manusia di sektor industri kimia. Dalam jangka panjang, investasi baru diharapkan menciptakan efek ekonomi yang lebih luas melalui keterlibatan pemasok, kontraktor, perusahaan logistik, dan berbagai usaha pendukung lainnya.
Transformasi Chandra Asri juga berlangsung melalui ekspansi bisnis pada tingkat regional. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah pengembangan Aster Chemicals and Energy di Singapura melalui perusahaan patungan yang mayoritas dimiliki Chandra Asri Group bersama Glencore sebagai mitra minoritas. Aset tersebut mencakup fasilitas pengolahan energi dan kimia yang memberikan perusahaan pengalaman lebih luas dalam mengelola operasi terintegrasi. Chandra Asri juga memperkuat eksposurnya terhadap bisnis energi melalui integrasi jaringan Esso di Singapura. Pengembangan regional tersebut membuat kegiatan perusahaan tidak lagi hanya berpusat pada produksi petrokimia di Indonesia. Pengalaman operasional dari bisnis regional kemudian dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan dalam pengelolaan energi, rantai pasok, serta pelayanan pelanggan.
Melalui Aster, perusahaan memiliki akses terhadap sejumlah produk petroleum seperti bensin, bahan bakar jet, gas oil, dan bitumen. Produk tersebut memiliki kegunaan pada berbagai aktivitas ekonomi mulai dari transportasi hingga kebutuhan industri. Diversifikasi tersebut menunjukkan perubahan Chandra Asri dari perusahaan yang sebelumnya dikenal terutama sebagai produsen petrokimia menjadi kelompok usaha dengan portofolio energi, kimia, dan infrastruktur yang lebih luas. Meski melakukan ekspansi regional, pengembangan kapasitas di Indonesia tetap menjadi bagian utama dari strategi perusahaan. Pembangunan fasilitas CA-EDC menjadi salah satu contoh investasi domestik yang terus dilanjutkan. Perusahaan juga tetap mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi yang menghasilkan berbagai produk olefin, polyolefin, styrene monomer, butadiene, dan bahan kimia lainnya.
Penguatan industri petrokimia tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Aktivitas produksi membutuhkan pasokan energi dan air yang stabil, fasilitas penyimpanan, pelabuhan, serta jaringan logistik yang mampu menghubungkan bahan baku dengan fasilitas produksi dan pelanggan. Chandra Asri karena itu turut mengembangkan bisnis infrastrukturnya melalui aset yang mencakup energi, air, kepelabuhanan, penyimpanan, dan logistik. Infrastruktur terintegrasi dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga keandalan rantai pasok. Model bisnis tersebut memungkinkan perusahaan mengelola lebih banyak bagian dari ekosistem industri dalam satu kelompok usaha. Strategi itu juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan manufaktur terhadap layanan yang semakin terintegrasi.
Di sisi lain, penguatan ekosistem petrokimia turut membutuhkan dukungan sektor keuangan. Pada September 2026, Chandra Asri Group menjalin kerja sama dengan Bank Mandiri untuk memperluas akses layanan perbankan bagi mitra pelanggan dalam rantai nilai petrokimia. Kerja sama tersebut mencakup fasilitas penerimaan pembayaran, transaksi perbankan, serta dukungan finansial sesuai kebutuhan pelanggan. Kemudahan memperoleh layanan keuangan dapat membantu pelaku usaha mengelola transaksi sekaligus memenuhi kebutuhan modal dalam kegiatan operasional. Kolaborasi antara produsen bahan baku, pelanggan, dan lembaga keuangan juga berpotensi memperkuat keterhubungan dalam rantai industri. Dengan demikian, pengembangan petrokimia tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga membutuhkan dukungan pembiayaan dan ekosistem bisnis yang efisien.
Perjalanan Chandra Asri selama lebih dari tiga dekade menggambarkan perkembangan industri petrokimia Indonesia sekaligus tantangan untuk meningkatkan kapasitas produksi domestik. Permintaan bahan baku dari sektor kemasan, otomotif, konstruksi, elektronik, dan manufaktur lainnya membuat keberadaan industri hulu tetap penting bagi perekonomian. Investasi lebih dari US$800 juta pada fasilitas CA-EDC menjadi salah satu langkah perusahaan untuk menambah kemampuan produksi bahan kimia dasar di dalam negeri. Dengan progres pembangunan sekitar 72 persen hingga Juli 2026, perhatian berikutnya akan tertuju pada penyelesaian proyek dan target operasi komersial pada 2027. Jika berjalan sesuai rencana, fasilitas tersebut akan menambah kapasitas industri sekaligus membuka peluang pengurangan ketergantungan terhadap pasokan impor. Pengembangan kapasitas produksi, ekspansi regional, dan penguatan infrastruktur menjadi bagian dari strategi Chandra Asri untuk mempertahankan perannya dalam rantai industri Indonesia di tengah kebutuhan ekonomi yang terus berkembang





