Jakarta, 2 November 2026 – Bank Indonesia (BI) menilai berlanjutnya surplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 memberikan kontribusi positif terhadap ketahanan sektor eksternal perekonomian nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia masih mampu melampaui kebutuhan impor di tengah dinamika perdagangan internasional dan ketidakpastian ekonomi global. Surplus perdagangan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung ketersediaan devisa serta menjaga stabilitas transaksi ekonomi Indonesia dengan negara lain. Bank sentral memandang perkembangan tersebut sebagai sinyal positif bagi kemampuan perekonomian nasional menghadapi tekanan eksternal. Kinerja perdagangan yang tetap mencatatkan surplus juga mencerminkan kontribusi berbagai komoditas ekspor dalam menopang penerimaan negara dari aktivitas perdagangan luar negeri. Meski demikian, BI tetap mencermati perkembangan permintaan global, perubahan harga komoditas, dan kondisi pasar keuangan internasional yang dapat memengaruhi kinerja ekspor maupun impor. Dengan dukungan perdagangan yang relatif terjaga, ketahanan eksternal Indonesia diharapkan tetap kuat dalam menghadapi perubahan kondisi perekonomian dunia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan pada Senin, 2 November 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar Amerika Serikat pada September 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan surplus Agustus 2026 yang mencapai 3,55 miliar dolar AS. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus terjadi karena nilai ekspor masih lebih tinggi daripada impor. Pada September 2026, total ekspor Indonesia mencapai 27,59 miliar dolar AS, sedangkan nilai impor tercatat sebesar 24,23 miliar dolar AS. Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia tetap menghasilkan selisih positif meskipun pertumbuhan impor berlangsung cukup tinggi. Surplus perdagangan juga memperlihatkan kemampuan sektor ekspor dalam mempertahankan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Namun, penurunan surplus dibandingkan bulan sebelumnya menjadi perhatian karena mencerminkan perubahan keseimbangan antara pertumbuhan ekspor dan kebutuhan impor. DDTCNews+1
Kinerja positif perdagangan pada September terutama ditopang oleh sektor nonminyak dan gas bumi atau nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar 5,67 miliar dolar AS. Sejumlah komoditas utama yang memberikan kontribusi terhadap surplus tersebut meliputi lemak dan minyak hewani maupun nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Komoditas tersebut masih menjadi bagian penting dalam struktur ekspor Indonesia karena memiliki pasar yang luas di berbagai negara tujuan. Sebaliknya, sektor minyak dan gas bumi mencatatkan defisit perdagangan sebesar 2,31 miliar dolar AS pada periode yang sama. Defisit tersebut terutama berasal dari perdagangan minyak mentah dan hasil minyak yang masih membutuhkan pasokan impor dalam jumlah besar. Dengan demikian, surplus sektor nonmigas berperan penting dalam menutupi kekurangan yang terjadi pada perdagangan migas. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa ketahanan perdagangan Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kemampuan mempertahankan ekspor komoditas unggulan. Penguatan diversifikasi produk ekspor dan pengurangan ketergantungan impor energi menjadi langkah yang relevan untuk menjaga keseimbangan perdagangan dalam jangka panjang. detikfinance+1
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS. Capaian tersebut berasal dari surplus perdagangan nonmigas sebesar 34,21 miliar dolar AS yang sebagian besar tergerus oleh defisit migas mencapai 23,60 miliar dolar AS. BPS melaporkan nilai ekspor selama sembilan bulan pertama tahun ini mencapai 221,23 miliar dolar AS atau meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai 212,27 miliar dolar AS dengan pertumbuhan sebesar 6,30 persen secara tahunan. Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai mencapai 182,83 miliar dolar AS, meningkat 8,93 persen dibandingkan periode Januari hingga September 2025. Pertumbuhan tersebut menunjukkan kontribusi industri manufaktur dalam mendukung penerimaan devisa dari kegiatan ekspor. Meski demikian, surplus kumulatif tahun ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 33,54 miliar dolar AS. Perbedaan tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap laju pertumbuhan impor serta perkembangan harga dan permintaan komoditas di pasar internasional. ANTARA News+1
Dari sisi negara mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia selama Januari hingga September 2026 dengan nilai mencapai 14,26 miliar dolar AS. India berada pada posisi berikutnya dengan surplus sebesar 10,59 miliar dolar AS, disusul Filipina sebesar 6,48 miliar dolar AS. Sementara itu, Tiongkok menjadi negara penyumbang defisit perdagangan terbesar dengan nilai mencapai 21,20 miliar dolar AS. Defisit perdagangan juga tercatat terhadap Singapura dan Australia, masing-masing sebesar 7,03 miliar dolar AS dan 5,78 miliar dolar AS. Perbedaan neraca perdagangan dengan masing-masing negara mencerminkan struktur hubungan ekonomi Indonesia yang melibatkan perdagangan bahan baku, produk industri, barang modal, dan komoditas ekspor. Negara yang menjadi tujuan utama ekspor belum tentu memberikan kontribusi surplus terbesar apabila Indonesia juga mengimpor barang dalam jumlah tinggi dari negara tersebut. Karena itu, perkembangan perdagangan perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kebutuhan produksi nasional dan hubungan rantai pasok internasional. Diversifikasi pasar ekspor serta peningkatan daya saing produk industri menjadi faktor penting untuk memperkuat posisi perdagangan Indonesia di tengah perubahan kondisi global. CNBC Indonesia
Bank Indonesia sebelumnya menegaskan bahwa ketahanan eksternal nasional perlu terus diperkuat untuk menghadapi ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan dunia. Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan III 2026, BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September mencapai 146,3 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya ditetapkan sekitar tiga bulan impor. Ketersediaan cadangan devisa yang memadai menjadi salah satu penopang kemampuan Indonesia menghadapi tekanan eksternal dan memenuhi kewajiban pembayaran internasional. Namun, BI juga mencermati pergerakan investasi portofolio asing yang dapat berubah akibat ketidakpastian kebijakan moneter global. Pada triwulan III 2026, investasi portofolio asing tercatat mengalami arus keluar bersih sebesar 0,08 miliar dolar AS, terutama dipengaruhi perkembangan pasar saham. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa surplus perdagangan perlu didukung stabilitas aliran modal dan pengelolaan kebijakan moneter yang konsisten agar ketahanan eksternal tetap terjaga. Bank Indonesia
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sinergi dengan pemerintah diperlukan agar perkembangan positif perdagangan luar negeri dapat memberikan manfaat lebih luas terhadap kegiatan produksi dan investasi dalam negeri. Penguatan industri pengolahan berorientasi ekspor menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah produk Indonesia di pasar internasional. Di sisi lain, upaya memperbaiki efisiensi produksi dan memperluas pasar ekspor dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tertentu yang rentan mengalami perubahan harga. Pemerintah juga perlu memperhatikan pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal karena sebagian kebutuhan tersebut berkaitan dengan peningkatan kapasitas industri nasional. BI memandang stabilitas sektor eksternal harus dijaga melalui keseimbangan antara kinerja perdagangan, kecukupan cadangan devisa, serta ketahanan pasar keuangan domestik. Surplus perdagangan September 2026 memberikan dukungan positif, tetapi perkembangan impor dan tekanan ekonomi global tetap perlu diantisipasi secara berkelanjutan. Dengan koordinasi kebijakan yang kuat serta peningkatan daya saing industri, perekonomian Indonesia diharapkan mampu mempertahankan ketahanan eksternal sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi pada periode mendatang. Bank Indonesia+1




