Jakarta, 11 Mei 2026 – Bank Mandiri memproyeksikan nilai tukar dolar Amerika Serikat berpotensi mencapai level Rp17.135 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Proyeksi tersebut muncul seiring kekhawatiran pasar global terhadap risiko perang yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, harga energi, hingga arus investasi internasional. Situasi geopolitik yang memanas membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Ketegangan di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi perhatian besar pasar keuangan global. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia, terutama minyak dan gas, yang selama ini menjadi faktor penting dalam stabilitas ekonomi internasional. Ketika risiko geopolitik meningkat, nilai dolar AS biasanya menguat karena dianggap sebagai mata uang safe haven yang lebih aman di tengah ketidakpastian global.
Penguatan dolar terhadap rupiah dinilai dapat memberikan tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi domestik. Kenaikan nilai tukar dolar biasanya berdampak pada meningkatnya biaya impor, beban utang luar negeri, serta tekanan terhadap harga barang yang bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat apabila diikuti kenaikan harga energi maupun barang kebutuhan tertentu di dalam negeri.
Meski demikian, pengamat ekonomi menilai kondisi nilai tukar tetap sangat bergantung pada perkembangan situasi global dan respons kebijakan pemerintah maupun bank sentral. Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai langkah intervensi pasar dan kebijakan moneter apabila tekanan eksternal semakin besar. Selain faktor geopolitik, arah suku bunga Amerika Serikat dan pergerakan ekonomi global juga menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan ke depan.
Proyeksi dolar menyentuh level Rp17.135 menunjukkan besarnya pengaruh ketidakpastian global terhadap pasar keuangan Indonesia. Banyak pelaku usaha dan investor kini memantau perkembangan konflik Timur Tengah karena dampaknya dapat meluas ke sektor perdagangan, energi, hingga investasi. Pemerintah dan otoritas keuangan diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tekanan eksternal tidak berdampak terlalu besar terhadap aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat di dalam negeri.







